KARAWANG Media Barata.Com | Pernyataan tajam dan mengguncang datang dari sosok yang dikenal vokal membela kepentingan rakyat, MR.KiM. Ia melontarkan kritik keras terhadap realita getir yang dialami putra-putri Karawang: sulit menembus dunia kerja di kampung halaman sendiri, meski Karawang dikenal sebagai salah satu pusat industri terbesar di Asia Tenggara.
Melalui unggahan terbuka yang kini viral, MR.KiM menegaskan bahwa hambatan utama bukan berasal dari pihak luar seperti investor asing melainkan dari dalam negeri sendiri. “Bukan karena Mr Jepangnya, bukan karena Mr Chinanya, bukan karena Mr Koreanya, bukan karena Mr Taiwannya, bukan karena Mr Eropanya, bukan karena para MR..MR… Tapi para demank-demank oknum HRD-nya yang mempersulit putra-putri Karawang untuk bisa menjadi buruh pabrik,” tegasnya.
Lebih jauh, MR.KiM menyebut adanya praktik tidak sehat dan sarat diskriminasi dalam proses rekrutmen tenaga kerja. Ia bahkan menuding bahwa oknum-oknum HRD di sejumlah perusahaan bersikap rasis dan hanya mementingkan golongan tertentu.
“Demank-demank oknum HRD sudah rasis, mereka mementingkan golongannya,” ujar MR.KiM tanpa tedeng aling-aling.
Pernyataan ini langsung menyulut respons publik, terutama para pencari kerja lokal yang selama ini merasa diabaikan dan dipersulit saat melamar ke perusahaan-perusahaan besar yang justru berdiri di atas tanah mereka sendiri. Tak sedikit warga yang mengeluhkan lambannya proses rekrutmen hingga dugaan adanya jalur ‘titipan’ dan permainan internal yang membuat akses kerja tidak lagi adil.
Ironi besar bagi Karawang, sebuah kabupaten dengan zona industri raksasa dan ribuan pabrik, namun tenaga kerjanya malah lebih banyak diimpor dari luar daerah.
MR.KiM pun menutup pernyataannya dengan ajakan keras penuh makna:
“Karawang ulah jadi penonton!”
Sebuah seruan untuk membangunkan kesadaran kolektif agar Karawang tak terus-menerus hanya jadi ladang eksploitasi, melainkan menjadi rumah yang layak dan adil bagi warganya sendiri.***red